Kamis, 13 Februari 2020

Masih
Masih terasaKehilanganmu
Masih
Masih terngiang tutur katamu
Masih
Masih terbayang sorot wajahmu
Masih
Masih berkelebat lakumu
Masih
Masih teringat semua tentangmu
Masih
Masih berasa kesedihannya
Masih
Masih berat menanggung rindu ini
Masih
Masih jelas raut wajahmu,senyummu,Sabarmu,gigihmu,
Masih
Masih mengalir airmata ini
Masih
Masih belajar bangkit
Masih
Masih tenggelam dalam sembilu
Masih
Masih penuh dengan ketakutan
Masih..............

Selasa, 04 Februari 2020

Aku sedih
Ingin ku menangis di dekatmu ayah.
Hira sudah hampir seminggu ini kulitnya dipenuhi dengan bintik bintik kecil yang hampir rata di sekujur tubuhnya
Sudah dua kali kubawa ke dokter,sementara semakin kupikirkan semakin .membuatku ketakutan
Aku mengingat ketika kau ada,kau yang membuatku tenang dengan semua masalah dan hal yang kita temui dan hadapi bersama.
Entah bagaimana aku dulu bisa begitu tenang dan pasrah dengan semuanya,tapi sekarang seolah olah hawamu di sekitarku mulai sirna
Ketakutan,kecemasan,kepanikan yang dulu bisa kuatasi bersamamu rasanya sekarang berat untuk kutanggung.
Aku harus ngempet ayah, kalau aku kelihatan menangis di depan ibuk apa jadinya?
Pasti akan tambah runyam.
Sementara aku harus berbagi ceritaku dengan siapa?
Jiha masih belum bisa diajak bercerita,mbak Lis hanya sesekali saja aku berbagi cerita dengannya, sementara mas yudi - rasanya masih susah mengungkapkan keluh kesahku yang lain padanya kecuali soal rumah yang harus di renovasi dan ibuk yang setiap saat selalu punya sensasi menggemparkan di rumah
Aku rindu kamu ayah,denganmu aku merasa bebas bercerita apapun
Denganmu aku bisa mengekspresikan diriku
Denganmu aku bisa jadi diriku sendiri tanpa ada yang ku tutupi dan kusimpan
Denganmu aku merasa nyaman
Masih kuingat,bagaimanapun keadaan kita waktu itu
Seterpuruk apapun kita masa itu,
Rasanya dengan kekuatan kita berdua ,kita sanggup dan mampu menghadapinya bersama
Seperti kita saling menguatkan satu sama lain.
Sekarang aku seperti kehilangan separuh bagian ayah,jalanku tak sempurna
Rasanya berat ayah,.......

Selasa, 21 Januari 2020

Saat terakhir#3


Rabu, 09102019
Subuh pagi itu, aku masih bermalas malasan di ranjang mbah kakung karena aku masih tidak sholat. Aku ingat kau duduk di kursi panjang di depan TV sambil memegang hape mu ayah. Aku menanyakan jam berapa Hira tadi malam tertidur dan kau jawab bahwa kau sudah tidak melihat jam malam itu, kau hanya bilang tengah malam kau masih sempat membuatkan Hira sebotol susu dan selanjutnya engkau sudah tidak begitu memperhatikan. Mungkin karena kau tidak bisa tidur semalaman dan akhirnya kutanyakan juga kenapa, apakah masih sesak nafas kah? Ternyata kau jawab tidak dan tidak tahu. Katamu entah kenapa semalaman kau merasa gelisah dan tidak bisa tidur. Bukan karena sesak nafas atau tidak enak badan seperti biasanya.
Tak lama setelah berbincang Hira terbangun , aku juga heran kenapa Hira yang tidur larut malam bisa pagi pagi sudah bangun. Segera aku ke dapur menyiapkan sarapan pagi itu, aku lupa dengan siapa pagi itu Hira mandi. Apakah dengan ayah atau dengan ku , yang aku ingat ketika akan berangkat sekolah Hira sudah nangkring cantik di atas sepeda ayahnya dan memanggil manggil aku “ mama mama ayo kita balapan , ayo maaa”
Aku segera menyalakan motorku dan beriringan motor kita melaju bersama. Hira dan ayah dengan aktifitasnya tiap pagi jalan jalan keliling kampung, mampir ke TK Paud untuk beli beli mainan dan jajan lalu pulang sedangkan aku lanjut melaju motorku ke sekolah.
Pagi itu di sekolah tidak ada hal yang baru, semuanya berjalan seperti biasanya. Aku mengajar jam 1-2 di kelas 9 A lalu jam ke 3 aku duduk duduk di ruang guru sambil menunggu istirahat tiba untuk masuk ke kelas 8D di jam ke 4-5. Tapi entahlah ternyata ketika aku masuk ke kelas 8D baru saja satu jam pelajaran mereka bilang kalau jam mengajarku sudah habis , ya ternyata aku gagal fokus pagi itu . Jadwal  yang kukira jam 4-5 ternyata jam 3-4 , ok lah sudahlah. Aku lalu menunggu lagi di ruang guru untuk jadwa mengajarku berikutnya di kelas 8E setelah istirahat  jam ke 6-7 , rupanya gagal fokusku terulang kembali dan jadwal di 8E rupanya jam ke 5-6. Ah kenapa aku sepagian ini gagal fokus? Aku bercerita dengan rekan rekan guru ku di ruangan sambil sesekali menertawakan gagal fokus ku pagi ini. Setelah habis jam  mengajarku  hari itu aku tidak langsung pulang karena aku harus mengisi bimbel di sekolah. Sudah lewat waktu dhuhur dan tiba tiba telpon WA dari ayah muncul di layar HP ku
Ku angkat telepon WA ayah tapi tidak ada jawaban, ku coba telepon kembali dan ternyata yang menjawab adalah Jiha. Aku sudah mulai curiga jangan jangan ayah sesak nafas lagi , segera kucecar Jiha dengan pertanyaan apakah ayah sakit , sesak , dan butuh ke igd saat itu juga. Dan jiha hanya singkat menjawab Ya dengan nada suara yang terdengar khawatir. Tanpa berpikir panjang aku segera pamit ke teman teman dan aku katakan pada mereka bahwa ada kondisi darurat di rumah. Di jalan pikiranku melayang memikirkan apa yang terjadi dengan ayah di rumah,apakah sama seperti senin malam ayah sesak lagi? Dengan tenang aku mengendarai motorku karena aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini, kubayangkan aku membawa ayah ke igd rumah sakit sama seperti kejadian kejadian sebelumnya. “insyaallah kali ini terlewati seperti biasanya” ya itulah yang ada di benakku ketika aku mengendarai motorku menuju arah pulang ke rumah.
Kubelokkan motorku memasuki gang rumahku, semuanya tampak lengang seperti biasa. Masuk halaman rumah juga tenang tidak ada suara suara gaduh di dalam rumah, aku memarkir motorku di depan halaman rumah dan segera aku masuk. Agak kaget ternyata di dalam rumah sudah banyak ibu ibu tetanggaku berkumpul di dekat kasur depan TV sementara ayah berbaring di kasur. Belum sempat kutaruh ranselku aku langsung menghampiri ayah, kupanggil namanya berkali kali tapi tidak ada jawaban darinya. Panik mulai menghinggapiku, tubuhmu terbujur kaku. Sekujur tubuhmu dingin, berkeringat dan bergetar serta ada busa di mulutmu. Tak henti hentinya aku memanggilmu dan kau tetap sama diam tak menjawab. Aku bingung bagaimana ini aku akan membawamu ke puskesmas atau ke rumah sakit. Sempat aku bertekad membawa sendiri mobil ku untuk membawamu ke igd tapi ibuk mencegahku. Sementara Jiha sudah mulai menangis sedangkan Hira tidur lelap di ranjang mbah kakung. Aku sudah tidak peduli bagaimana nanti kita akan ke igd, aku segera ke kamar menyiapkan semua yang perlu dibawa dan tak lama kemudian ada tetanggaku yang bersedia mengantarkan. Setelah semuanya siap, beberapa orang bapak bapak membantu menggotong ayah masuk mobil sementara aku sudah siap di dalam mobil untuk memapahmu. Rencana awal memang kita mau ke igd rumah sakit tapi tetanggaku menyarankan untuk membawa ke igd puskesmas dulu untuk pertolongan pertama dan aku menyetujuinya.  
Sampai di igd puskesmas perawat dan dokter dengan sigap memberikan pertolongan pertama pada ayah, sementara ayah belum sadar juga dan sekujur tubuhnya bergetar. Mereka segera meberikan suntikan untuk menghentikan kejangnya dan tak berapa lama tubuh ayah mulai tenang. Beberapa kali aku ke booth perawat mengurusi administrasi dan mereka masih sibuk memonitor perkembangan ayah . Mereka menjelaskan bahwa nantinya ayah pasti akan di rujuk ke RSUD dan aku mengangguk saja. Sebelum di rujuk mereka memasangkan selang kateter pada ayah, aku sempat bertanya kenapa pakai dipasang selang kateter karena biasanya ketika masuk igd jarang sekali mereka memasangnya jika tidak dalam kondisi yang sangat darurat saja. Aku kembali menepis kekhawatiranku dan mengingat lagi ke belakang bahwa dulu ayah juga pernah kok dipasang kateter tapi itu sudah lama sekali. Sebelum petugas memasangkan kateter aku sempat memberitahukan bahwa ayah memiliki hernia di testis kanannya, tapi entah kenapa ketika dipasang sudah tidak kelihatan bengkak lagi seperti biasanya. Setelah semua proses selesai akhirnya ambulan memberangkatkan kami ke rumah sakit
Sepanjang perjalanan menuju RSUD tak henti henti dan tak putus putusnya aku berdoa untuk ayah semoga bisa melewati lagi moment yang seperti ini dan kembali beraktifitas seperti biasa. Ingatan ku melayang pada lima tahun yang lalu dan tiga tahun yang lalu dimana ayah pertama kali masuk igd dan masuk igd lagi dua tahun kemudian sebelum cuci darah rutin. Ya, semuanya terjadi di bulan oktober .Rasanya perjalanan menuju RSUD kali ini terasa lama sekali bagiku, dengan posisi duduk yang tidak nyaman dan memegangi ayah supaya tubuhnya tidak banyak bergerak karena goncangan dari mobil ambulan yang melaju dengan cepat membuat detik detik perjalanan  kami menuju rumah sakit terasa begitu lama.
Akhirnya sampailah kami di igd rumah sakit, karena sudah terbiasa keluar masuk igd sebelumnya aku langsung saja menuju booth pendaftaran sementara ayah di dampingi oleh perawat dari puskesmas masuk ke ruangan igd. Aku tidak begitu memperhatikan di area mana ayah ditempatkan di igd hingga tiba di depan area penanganan perawat puskesmas memberitahuku bahwa ayah ada di area merah. Mendengar hal itu hatiku seketika berdegup, ada kecemasan, kepanikan dan kekhawatiran yang muncul. Tapi aku berusaha tenang, kuredam semuanya itu. Bismillah semuanya akan baik baik saja walaupun saat itu hatiku berkecamuk tidak karuan.
Kulangkahkan kakiku memasuki area merah, disambut dengan tangisan beberapa keluarga pasien lain yang menunggui keluarga terkasih mereka. Aku masih berusaha tenang sementara dokter dan perawat sudah stand by di dekat bed ayah siap siap menjelaskan padaku tentang kondisi ayah saat itu
Mereka menjelaskan bahwa kondisi ayah saat ini buruk, kemungkinan ada pendarahan di otak atau infeksi bakteri di otaknya tapi mereka masih harus menunggu perkembangan ayah untuk dilakukan ct scan di radiologi. Aku kembali bertanya apakah paru parunya terendam cairan dan mereka menjawab bahwa paru paru ayah bersih dari cairan. Ah sekali lagi aku harus menahan panik ini, kutepis semuanya dengan mengingat ingat momen sebelumnya dimana ayah berhasil melewati semua itu dan kembali ke rumah dengan kondisi sadar. Tapi entah kenapa airmata ini secara otomatis mulai keluar. Mereka mulai tindakan dengan menyedot cairan melalui mulut ayah, ahhh aku miris melihatnya. Kasihan sekali ayah harus dimasukkan selang panjang melalui mulutnya, tak tega aku melihatnya. Beberapa kali aku dan saudara saudaraku bergantian mondar mandir ke apotik untuk mengambil obat, tanpa menyadari obat apa saja yang sudah masuk ke tubuh ayah.
Mas yudi, dan mas edy sudah menunggu di luar. Mereka semua berkata hal yang sama, sabar , istighfar, kuatkan hati ikhlas dan pasrah dengan segala kemungkinan yang terjadi bahkan yang terburuk sekalipun. Mungkin karena melihat kondisi ayah yang seperti itu makanya mereka berucap hal tersebut. Tapi aku tak berhenti berharap semoga semuanya ini bisa terlewati bersama.
Aku duduk di sebelah kiri bed di dekat kepalanya, kugenggam tangan ayah kubelai rambutnya sambil berucap istighfar sebanyak banyaknya. Masih kurasakan remasan tangan ayah dalam gengggaman ku, aku sedikit lega karena dengan begitu masih ada sedikit harapan ayah bisa sadar. Kubisikkan padanya ,kuberikan pilihan padanya , ya saat itu aku berucap di dekat telinganya “ayah apabila kamu masih kuat bertahan ayok semangat yah, aku mendampingimu disini . tapi kalau ayah sudah capek nggak papa ayah aku insyaallah ikhlas” ya bisikan itu berulang ulang kali kuucapkan di telinga ayah dengan diiringi kalimat istighfar dan seketika air mata mulai menetes tanpa bisa di bendung.
Perawat menghampiri untuk memberitahukan bahwa ayah akan dibawa ke ruang radiologi untuk di rontgen dan CT scan. Ku telepon saudara saudara ku yang sedang menunggu di luar untuk membantu dan dengan segera mereka datang. Proses di radiologi tidak memakan waktu lama, kurang dari setengah jam kami sudah kembali ke area merah. Monitor sudah kembali dipasang dan mereka memberitahuku bahwa nanti dokter akan segera memberitahukan hasil dari CT scan. Pikiran ku sudah berkecamuk tidak karuan membayangkan hasil dari radiologi tadi, di dalam ruangan itu seolah olah waktu tidak berjalan. Aku sudah tidak memperdulikan lagi saat itu jam berapa dan sudah berapa jam aku ada di ruangan itu.
Mas yudi menghampiriku untuk pamit pulang dan menyerahkan tas yang berisi baju gantiku dan barang barang ayah. Aku sampai lupa bahwa dari tadi siang sampai entah jam berapa ini - yang kuingat sudah melewati waktu maghrib- aku belum ganti baju seragam hitam putih yang tadi pagi kupakai ke sekolah.  Kuambil baju gantiku dan beranjak ke kamar mandi sebentar, segera setelah aku berganti baju kulangkahkan kakiku kembali ke area merah.
Mas yudi duduk di kursi menunggu ayah, entah kenapa ketika mau pamit pulang kuminta  mas Yudi untuk membawa semua perbekalan kami mulai dari baju ganti, obat obatan dan lain lain yang kubawa hanya meninggalkan dompet, power bank  dan kartu kartu serta surat surat yang sekiranya akan dibutuhkan kemudian. Tak berapa lama setelah mas yudi pergi seorang perawat datang memasang selang di hidung ayah, ahh aku ingat bapak.  terakhir kalinya di rumah sakit sebelum meninggal bapak juga begitu karena kondisi yang tidak sadar dan mengharuskan memasukkan makanan cair berupa susu melalui selang hidungnya. Pikiranku semakin berkecamuk tapi masih dengan sedikit harapan di hati sambil berkompromi pada diriku sendiri bahwa nanti apapun yang akan terjadi insyaallah aku siap menghadapinya. Aku mulai bertanya pada perawat tentang kondisi ayah dan perawat menjawab bahwa nanti dokter akan menjelaskan semuanya padaku. Ku iringi ayah di sebelah bednya sambil sesekali mengelap cairan seperti muntahan yang keluar dari mulutnya. Berulang ulang kubisikkan istighfar di dekat telinganya dan sesekali kuucapkan pesanku sebelumnya sambil menggenggam tangannya dan membelai rambutnya, tapi kali ini genggamannya terasa semakin lemah di tanganku
Tak berapa lama perawat memanggil ku untuk berbicara dengan dokter. Pikiranku berkecamuk tapi dengan segenap tenaga aku berusaha siap mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh dokter. “ bapak mengalami pendarahan bu di batang otaknya, saat ini kondisinya tidak sadar bisa berlangsung lama dan bisa juga sebentar. Tapi nanti kalaupun sadar kemungkinan kondisi bapak akan stroke bu. Ini masih kita observasi. Dan kemungkinan terburuk bapak bisa mengalami henti jantung”
Ya kurang lebih seperti itu yang kuingat yang dikatakan oleh dokter saat itu, ok insyaallah siap apapun yang terjadi. Itu yang ada di pikiranku saat itu. Aku siap seandainya ayah segera sadar dan mengalami stroke dan harus lebih ekstra lagi mendampinginya, aku siap seandainya ayah harus lama tidak sadarkan diri dan harus mendampinginya setiap saat, dan yang terakhir aku siap jika ayah akhirnya harus pergi meninggalkan kami semua karena mungkin itu yang terbaik bagi kami semua.
Setelah dokter memberikan penjelasan padaku segera aku menuju bed ayah, kubelai rambutnya kugenggam tangannya tapi sudah tidak terasa tenaga dari tangannya. Berkali kali kuucap istighfar sambil sesekali mengusap bibirnya yang sesekali mengeluarkan cairan. Tiba tiba kudengar suara dari mulut ayah yang sudah terpasang selang, samar seperti ucapan “Ya Allah ya Allah Ya Allah” dan entah spontan kubisikkan kalimat syahadat di telinganya. Kulihat mulutnya seperti menghembuskan nafas panjang, kutunggu sampai beberapa saat tapi tidak kulihat lagi gerakan mulutnya bernafas. Langsung saja kupanggil perawat dan ku telepon mas Edy, segera para perawat dengan sigap memacu jantung ayah sama seperti di film film yang sering kutonton sementara mas Edy memelukku dengan erat dan aku larut dalam tangis sesenggukanku. Masih jelas rasanya Ayah, saat saat kau pergi masih meninggalkan duka yang sangat dalam. Saat aku mengetiknya inipun masih keluar airmata ini, Semuanya masih terasa jelas bagiku, setiap moment detik demi detik kepergianmu masih terasa. Satu hal yang membuatku lega adalah kau sudah tidak lagi merasakan sakit seperti yang telah kau alami beberapa tahun terakhir ini
Ku ikhlaskan kepergianmu, semoga kau tenang di sana Ayah, insyaallah kami akan selalu mendoakanmu dan semoga kelak suatu saat nanti kita dipertemukan kembali dalam Jannah ...
Amin Ya Robbal Alamin
Alfatihah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِي﴿ ١


الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِينَ ﴿ ٢

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ ﴿ ٣

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿ ٤

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿ ٥

اهْدِنَا الصِّرٰطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿ ٦

صِرٰطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّينَ ﴿ ٧

Minggu, 15 Desember 2019

Ayah ....
Besok aku dan anak anak mau ke paciran ditemani budhe lis
Aku kangen ayah dengan semua suasana paciran
Kangen Bakso balungan yang ada di dekat indomaret depannya puskesmas paciran
Kangen berenang di Nanjan dengan anak anak
Kangen main di pantai sambil cari kerang kecil di sebrang Nanjan waktu air sedang surut
Kangen maem nasi Jagung di depan WBL
Kangen pagi pagi jalan jalan ke pantai dalegan
Kangen jalan jalan dan jajan pagi di pasar kriyek
Kangen beli punar
Kangen ikan asapnya
Kangen main di belakang rumah wak Dul yang langsung menghadap laut
Kangen lihat anak anak main sampai puas dengan jauhar dan wati di rumah man Lish
Kangen maem rujak paciran
Kangen dawet paciran
Kangen ote ote dan nasi kebuli
Duduh lodeh iwak pindang
Bakaran acarahan sama sama dengan teman dan keluarga mu
Kangen sentor menor
Jenang goyang lidah
Jalan jalan muteri gang gang sempit yang ada di paciran
Beli legen langsung dari yang manjat pohon siwalan
Naik naik ke atas kandang di dekat rumah mbah ping dan wak Min
Beli trasi,petis,gula aren dan kecap laron
Hunting kepala manyung serta ikan segar di TPI
Jalan jalan ke ngGunung atau sendang
Ke rumah mas Qohar metik rambutan
Ah ayah semua hal itu biasanya yang kita lakukan ketika mudik ke paciran
Besok kita mau kesana ayah,tapi tanpamu
Entah bagaimana rasanya
Ah ayah,aku merindukanmu
Sangat

Rabu, 13 November 2019


Saat terakhir #1
Senin, 07102019
Hari itu aku pulang agak sorean karena harus ngisi bimbel dan mampir dulu ke mama Ju untuk ambil soal buat kakak, chat WA dari ayah sudah muncul berkali kali dilayar hape ku. Sepertinya mbah putri sudah gupuh mendapati aku belum juga pulang. Segera kubalas chat WA ayah memberitahukan bahwa aku belum selesai meng copy soal soal ulangan di rumah mama Ju. Waktu menunjukkan  jam empat sore dan aku segera membawa motorku melaju pulang ke rumah.
Sampai di rumah, Hira sudah mandi dan wangi serta ayah sudah duduk di ruang tamu sambil memegang hapenya dengan terengah engah. Mungkin kebanyakan minum karena beberapa hari ini cuaca sangat panas dan aku juga antara kasihan tapi sebel juga karena dengan minum banyak artinya bisa bisa ayah akan sesak nafas dan kalau sudah sesak nafas pasti susah untuk  tidur. Ya malam itu sekitar jam 10 malam kau menghampiriku di kamar tidur. Aku yang saat itu sedang ngantuk berat langsung terbangun karena tidak biasanya kau langsung meminta ke igd. Mungkin karena terakhir masuk igd sebulan lalu adalah yang terparah hingga kau kehilangan kesadaran dan aku tidak henti hentinya terisak menangisimu begitu takutnya kehilangan kamu ayah.
Ku ambil hape ku, ku cari kontak cak Man di WA dan segera memintanya mengantarkan ke igd, terakhir ke igd kau berangkat sendiri dengan cak Man karena keluar masuk igd sudah biasa bagi kita berdua. Tapi setelah kejadian kehilangan kesadaran aku jadi was was jika harus meninggalkanmu sendirian di igd. Setelah menyiapkan segala sesuatunya – selimut,obat obatan,sabuk tangan untuk HD, selang oksigen, kartu bpjs dan ktp  – tak berapa lama cak Man datang. Sebelumnya aku sudah menelepon mbak Lis untuk menginap di rumah mendampingi Hira yang saat itu belum tidur .
Mobil cak Man melaju dengan cepat menerobos jalanan malam yang saat itu tidak lengang namun juga tidak padat. Sementara ayah mulai tersengal sengal dan sepanjang perjalanan tak henti hentinya aku berdoa untuk ayah bisa melewati semua ini. Sampai di igd aku segera mengeluarkan selang oksigen dan kamu segera ditangani di area kuning. Setelah mendaftar aku segera menghampiri bed yang kau tempati sambil tak henti hentinya memanggilmu untuk memastikan apa dirimu masih sadar atau tidak. Dan alhamdulillah kau masih sadar dengan menjawab melalui anggukanmu. Dokter dan perawat sudah menginformasikan bahwa besok pagi dirimu akan di bawa ke unit HD untuk hemodialisis. Lega juga rasanya setelah mendengarnya tapi tetap saja dengan rasa kantuk yang amat sangat aku susah untuk memejamkan mata karena rasanya sungguh tidak nyaman. Mungkin karena sudah lama aku tidak bermalam di igd jadi rasanya susah untuk tidur. Setelah mendapat  ijin ke ayah untuk tidur di kursi tunggu di luar barulah aku bisa tidur walaupun hanya sebentar.
Karena saat itu aku sedang libur sholat kuputuskan keluar igd jam setengah enam untuk ke unit HD


Saat terakhir #2
Selasa 08102019
Ku masuki kamar mandi area kuning untuk mencuci muka dan berganti pembalut, ketika keluar kudapati perawat sedang memeriksa tekanan darah ayah . Dengan reflek aku langsung berkata kenapa tensinya di sebelah kiri, tangan itu digunakan untuk akses cuci darah jadi tidak boleh di pakaikan tensi meter. Dengan santainya perawat menjawab kalau itu sudah terlanjur dan tidak apa apa.
Aku keluar berjalan dari igd yang letaknya di ujung sebelah timur rumah sakit menuju ke unit HD yang ada di ujung barat rumah sakit di gedung paviliun. Disana para pasien HD sesi satu sudah nimbrung di ruang tunggu paviliun lantai 1. Kebetulan hari selasa adalah jadwal HD nya ayah tapi sesi 2 jadinya sedikit banyak wajah wajah mereka tidak asing buatku. Mereka belum ada yang masuk ruangan jadi kuputuskan merebahkan diri di sofa tosca lobi paviliun sambil menunggu. Tanpa sadar ternyata aku ketiduran dan begitu terbangun aku lihat sekelilingku sudah sepi dan kosong yang artinya mereka semua sudah masuk ke dalam ruangan unit HD. Kulangkahkan kakiku kedalam ruangan untuk melapor pada petugas perawat HD kalau ayah ada di igd dan masuk sesi 1 ,eh ternyata ayah sudah di ruangan dan siap untuk proses HD. Rupanya karena ketiduran tadi ternyata pihak igd dan HD sudah terlebih dulu berhubungan untuk HD ayah. Mas wanto, perawat HD yang menangani ayah tersenyum menyapa kami dan menggoda ayah. Terakhir ayah tidak sadar juga ditangani oleh mas Wanto. Proses HD hari itu berjalan lancar tidak ada kendala sama sekali , ayah dalam kondisi sadar malahan masih sempat mengerlingkan mata padaku ketika mas Wanto menanyakan tingkat kesadarannya sambil menggoda kami berdua dan akhirnya ayah memutuskan untuk pulang setelah HD. Aku tidak menghubungi keluarga ayah yang ada di Paciran perihal masuk igd kali ini. Biasanya aku selalu mengabari mereka seperti terakhir kali sebulan yang lalu. Masih jam 12an saat itu ketika proses HD selesai, kami berjalan keluar bersama dengan ayah jalan tanpa alas kaki karena masuk igd semalam. Pak suwandi salah satu pasien HD sesi 3 menyapa kami dan ayah membalasnya dengan senyuman santai. Aku memesan transportasi online untuk mengantar kami pulang, sepanjang perjalanan pulang ke rumah entah kenapa tidak satupun dari kami berdua berbincang. Kami sibuk dengan pikiran kami masing masing, aku bahkan siap untuk menggodanya nanti sesampainya di rumah perihal HD selasa yang hari ini pulang lebih awal hanya karena berangkatnya juga lebih “awal” melalui igd. Jam 1an kami sudah sampai di rumah dan aku merasa capek sekali, segera aku ke kamar untuk rebahan menikmati kasur yang semalam aku tinggalkan. Waktu ashar datang, saat itu entah kenapa kita berbincang tentang hutang yang kami tanggung masing masing dan kewajiban pasangannya untuk membereskan jika salah satu meninggal dunia. Dengan saling bercanda kau menjawab pasrah apabila aku yang dipanggil duluan, dan aku menimpali dengan bercanda sambil menanyakan dimana saja hutangmu. Pada mas Lukman dan temanmu very, ya itu jawabanmu dan aku masih mengingatnya.
Malam harinya belum terlalu larut aku sudah merasa mengantuk sekali, aku pamit padamu untuk tidur lebih dulu di ranjang mbah kakung sementara dirimu tidur di kasur depan TV dengan Jiha dan Hira masih belum berhenti bergerak kesana kemari dengan aktifnya. Memang saat itu Hira suka sekali tidur larut. Aku tidak tahu jam berapa Hira tidur di sampingku , yang kutahu ketika aku terbangun malam malam sudah ada Hira tidur di sampingku dengan bantalan lengan ku dan aku melihat ayah sepertinya belum tidur dan bergerak gerak seperti gelisah. Rasa kantuk dan capekku lebih kuat saat itu hanya untuk sekedar bertanya ada apa dengan ayah. Itu satu hal yang kusesali kenapa malam itu aku tidur terpisah dengannya

HAPPY ANIVERSARY

Minggu, 10 Nopember 2019
Selamat Hari pahlawan!!!

Its our wedding anniversary ayah, ahhhh kita tidak menyelesaikan 12 tahun pernikahan kita.
cukup 11 tahun dan 11 bulan saja kau menemaniku. cukup itu saja kau mendampingiku mengerjakan PR-PR kehidupan kita. kadang rasanya mau protes ayah, teganya kau tinggalkan kami semua disini tanpamu. tapi sekali lagi ini sudah skenario yang maha kuasa. Ya betul sekali , ini adalah skenario indah yang dibuat oleh Allah untuk kita semua. Aku meyakini ayah pasti ada hikhmah di balik semua ini

 10 nopember 2014
masih banyak lagi ruang memori yang nantinya akan kita penuhi sama sama.dan semoga indah  yang akan selalu kita rasakan ♡ 
SELAMAT HARI PAHLAWAN !!!!

agaknya ruang memori itu hanya sampai tahun ini ayah, begitu banyak impian impian kita bersama yang sering kita obrolkan ketika malam malam tiba berangan angan tentang masa depan kita bersama Jiha dan Hira. Sekarang tinggal aku sendirian ayah melaksanakan tugas amanah ini tanpa dirimu di sisiku mendampingiku. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan untukku menjalaninya

10 nopember 2013
thank you for wonderfull amazing, thrilling,fantastic time you present for me   ♡  ♡ 

kamu itu selalu membuatku nyaman, bahkan saat sakit sekalipun aku selalu senang hati mendampingimu, memang kau sama sekali jauh dari tipe suami yang sempurna dan  romantis. tapi perhatian perhatianmu yang seringkali luput dari dugaan pemikiranku membuat aku semakin hari semakin jatuh cinta padamu.
Memang kau jauh dari sempurna ayah, aku bisa menebak apa yang ada di hati dan pikiranmu betapa kau sangat merasa bersalah padaku dan anak anak karena tidak bisa memberikan yang lebih pada kami. tapi aku bahagia ayah dengan segala kondisi yang ada yang kita jalani bersama. Ah ayah thank you. You have come and stop by in my life, give me a very wonderfull moment together. leaving me two beautiful daughter to accompany me. Although its quite short time for me to be with you, I will always keep it in my memories. once again thank you Ayah.....

10 nopember 2012
ketika semua orang buat status ttg hari pahlawan,aq hanya akan memberi selamat pd diriku n mantan pacarku."we made it honey,to the first five year.We have still a long journey to go with.wish we can make it together. I love you,happy aniversary.mmmmmuuuuuaaaaaaccccchhhhhhh......."

We made it Ayah, 11 years and 11 months. You made it, you make me to be who I am now.
kau mengajarkanku ikhlas, sabar, mandiri, tegar dan tabah serta masih banyak lagi nilai nilai kehidupan yang apabila dijabarkan satu persatu mungkin akan membutuhkan sejuta kata untuk menyampaikannya.
Aku juga bisa baca quran karenamu ayah, masih kuingat saat-saat aku ngambek seperti anak kecil ketika belajar membaca al quran. kau dengan sabar menuntunku, membantuku mendukungku sampai aku bisa walaupun tidak sempurna. Semoga ilmu yang bermanfaat ini mengalirkan pahalanya padamu ayah.
yang selalu ada di benakku adalah bersyukur mengenalmu, memilikimu, mencintaimu, mendampingimu sampai di ujung waktumu , sampai di akhir hayatmu.
tidak ada penyesalan sama sekali ayah, semua yang sudah kita lampaui bersama berdua semuanya terkenang dengan manis. hampir tidak ada kenangan darimu yang membuatku jengkel ataupun sebel padamu. Ahhh  ayah, once again miss you already .....